Kamis, 19 Oktober 2017

antihistamin

Antihistamin adalah obat atau komponen obat yang berfungsi untuk menghalangi kerja zat histamin dan dipakai khususnya untuk mengobati alergi. Antihistamin biasa digunakan untuk mengobati rhinitis, alergi musiman, reaksi alergi akibat sengatan serangga, pruritus dengan gejala gatal, dan urtikaria atau biduran, alergi mata, dan alergi makanan. Selain itu, antihistamin juga bisa digunakan sebagai obat darurat untuk mengatasi anafilaksis (anafilaktik) atau reaksi alergi yang tergolong berat dan mematikan. Tidak hanya alergi, antihistamin juga kerap digunakan untuk mengatasi gejala mual atau muntah yang biasanya diakibatkan oleh mabuk kendaraan
Ada dua jenis antihistamin, yaitu antihistamin generasi pertama dan generasi kedua. Antihistamin generasi pertama adalah jenis yang dapat menyebabkan rasa kantuk setelah digunakan, sedangkan antihistamin generasi kedua tidak terlalu menimbulkan rasa kantuk.
Efek-Efek Samping
            Yang paling sering terjadi adalah efek sedative-hipnotiknya (rasa kantuk) akibat depresi SSP (dan daya antikolinergiknya). Efek ini terkuat pada prometazin dan difenhidramin dan agak ringan pada d-klorfeniramin dan mebhidrolin, walaupun sifat ini sangat berfariasi secara individual. Dua obat baru, terfenadin dan astemizol, tidak memiliki efek samping ini dan merupakan antihistaminika satu-satunya yang boleh diberikan dengan aman pada pengemudi kendaraan bermotor. Pada umumnya dalam beberapa minggu terjadi toleransiuntuk efek sedative-hipnotik ini.
            Efek-efek sental lainnya berupa pusing-pusing, gelisah, rasa letih, lesu,dan tremor(tangan gemetar), sedangkan overdose dapat mengakibatkan konvulasi dan koma.
            Gangguan-gangguan lambung-usus juga sering terjadi dan berkisar antara mual, muntah dan diarea sampai anoreksia dan obstipasi. Efek-efek ini dapat dikurangi dengan menelan obat setelah makan.
            Efek-efek antikolinergik dapat terjadi, seperti mulut kering, gangguan penglihatan dan gangguan lambung-usus, obstipasi dan retensi kemih. Berhubung sifat ini antihistaminika hendaknya jangan diberikan pda pasien glukoma dan hipertrofia prostat.
Efek antiserotonin ada hubungannya dengan meningkatnya nafsu makan dan berat badan, maka bila efek ini tidak diinginkan, untuk penggunaan lam sebaiknya jangan diberikan siproheptadin dan oksatomida.
Alergi dapat terjadi pada pemberian oral, tetapi khususnya pada penggunaan local. Obat-obat denga efek stabilisasi atas mastcell pada dosis tinggi mempertunjukkan efek paradorsal, yaitu justru menstimulasi pelepasan histamine (histamine-liberator) bahkan tanpa adanya antigen. Efek ini mungkin disebabkan kerja merusaknya terhadap membrane sel.
Efek teratogen dari siklizin dan turunannya meklozin serta klorsiklizin telah dibuktikan pada hewab percobaan, tetapi tak pernah pada manusia. Namun obat-obat ini tidak dianjurka pada wanita hamil.
 Penggolongan
Menurut struktur kimianya antihistaminika dapat dibagi dalam beberapa kelompok, antara lain :

1.Devirat-devirat Etanolamin
Zat-zat ini berdaya antikolinergik dan sedative agak kuat
a.Diferenhidramin : Benadryl(P.D)
disamping daya antikolinergik dan sedative yang kuat, antihistamin ini juga bersifat spasmolitik, anti-emetik & antivertigo (pusing-pusing). Berguna sebagai obat tambahan pada penyakit Parkinson, juga digunakan sebagai obat anti gatal pada urticaria akibat alergi.
Dosis: oral 4xsehari 25-50mg, i.v.10-50mg
v  2-metildifenhidramin = orfenadrin (Disipal,G.B) denagn efek anti-kolinergik dan sedative ringan, lebih disukai sebagai obat tambahan Parkinson dan terhadap gejala-gejala ekstrapiramidal pada terapi dengan neuruleptika. Dosisnya: oral 3 kali sehari 50mg.
v  4-metildifenhidramin (Neo-Benodin) lebih kuat sedikit dari zat induknya. Digunakan pada keadaan-keadaan alergi pula dengan dosis oral 3xsehari 20-40mg.
v  Dimenhidrinat (Dramamine, Searle) adalah senyawa klorteofilinat dari diferenhidramin yang digunakan khusus pada mabuk jalan dan muntah-muntah sewaktu hamil. Dosisnya 4x sehari 50-100mg, i.m. 50mg.
v  Klorfenoksamin (Systral,Astra) adalah derivate klor & metal, yang antara lain digunakan sebagai obat tambahan pada penyakit Parkinson.Dosisnya : oral 2-3x sehari 20-40mg (klorida), dalam krem 1,5%.
v  Karbinoksamin (Polistin,Pharbil) adalah derivate piridil dan klor yang digunakan pada hay fever dengan dosis oral 3-4x sehari 4mg (maleat,bentuk-dl).

b.Klemastine : Tavegyl (Sandoz)
memiliki struktur yang mirip klorfenoksamin, tetapi dengan substituent siklik (pirolidin). Daya antihistaminikanya amat kuat, mulai kerjanya pesat, dalam beberapa menit dan bertahan lebih dari 10 jam. Antara lain mengurangi permeabilitas dari kapiler dan efektif guna melawan pruritus alergis (gatal-gatal). Dosis oral 2x sehari 1mg a.c.(fumarat),i.m.2x2mg.

2. Devirat-devirat Etilendiamin
Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki daya sedatife yang lebih ringan.
v  Antazolinfenazolin, Antistin (Ciba)
Daya antihistaminiknya kurang kuat, tetapi tidak merangsang selaput lender. Maka layak digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung (salesma) sebagai preparat kombinasi dengan nafazolin(Antistin-Privine, Ciba).
Dosis oral 2-4x sehari 50-100mg (sulfat).
v  Tripelenamin (Tripel,Corsa-azaron, Organon) kini hanya digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal akibat reaksi alergi (terbakar sinar matahari,sengatan serangga,dll).
v  Mepirin (Piranisamin) adalah derivate metoksi dari tripenelamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin (Triaminic,wander) pada hay fever dengan dosis 2-3x sehari 25 mg (bitab).
v  Klemizol (Allercur, Schering) adalah derivate klor yang kini hanya digunakan dalam preparat kombinasi anti-selesma (Apracur,Schering) atau dalam salep/suppositora antiwasir (Scheriproct, Ultraproct,Schering)

3. Devirat-devirat Propilamin
Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya antihistaminic kuat.
a.Feniramin : Avil (Hoechst)
Zat ini berdaya antihistaminic baik dengan efek meredakan batuk yang cukup baik, maka digunakan pula dalam obat-obat batuk. Dosis oral 3x sehari 12,5-25mg (maleat) pada malam hari atau 1x 50mg tablet retart; i.v. 1-2x sehari 50mg; krem 1,25%.
v  Klorfenamin (klorfeniramin,dl-,Methyrit,SKF) adalah deriver klor dengan daya 10x lebih kuat, sedangkan derajad toksisitasnyapraktis tidak berubah. Efek-efek sampingnya antara lain sifat sedatifnya ringan. Juga digunakan dalam obat batuk. Bentuk dextronya adalah isomer aktif, maka2 kali lebih kuat daripada bentuk dl (rasemis) nya :dexklorfeniramin (Polaramin, scering).
Dosis: 3-4 kali sehari 3-4 mg (dl, maleat) atau 3-4 kali sehari mg (bentuk-d).
v   Bromfeniramin (komb. Ilvico, Merck) adalah derivat brom yang sama kuatnya dengan klorfenamin, padamana isomer-dextro juga aktif dan isomer-levo tidak. Juga digunakan sebagai obat batuk. Dosis: 3-4 kali sehari 3 mg (maleat).
b. TripolidinPro-Actidil (Wellcome)
Derivat dengan rantai-sisi pirolidin ini berdaya agak kuat, mulai kerjanya pesat dan bertahan lama, sampai 24 jam (sebagai tablet retard). Dosis: oral 1 kali sehari 10 mg (klorida) pada malam hari berhubung efek sedatifnya. 
4. Derivat-derivat Fenotiazin
            Senyawa-senyawa trisiklik ini memiliki daya antihistamin dan antikolonergik yang tidak begitu kuat dan sering kali berdaya sentral kuatdengan efek neuroleptik. Maka banyak turunannya digunakan sebagai neuroleptika pada keadaan psikosis. Berhubung dengan efek sedative dan meredakan batuknya,sering digunakan pula dalam obat batuk.
a.Prometazin : Phenergan(R.P)
            Antihistamin tertua ini (1949) digunakan pada reaksi-reaksi alergi akibat serangga dan tumbuh-tumbuhan, sebagai antiemetic untuk mencegah mual dan mabuk jalan. Selain itu juga pada pusing-pusing(vertigo) dan sebagai sedativum pada batuk dan sukar tidur, terutama pada anak-anak.
            Efek-efek sampingnya berupa umum, kadang-kadang terjadi hipotensi, fotosensibilisasi, hipotermia (suhu badan rendah) dan efek-efek darah (leucopenia, agranulocytosis). Semua fenotiazin dapat menimbulkan reaksi-reaksi ini.
            Dosis oral 3x sehari 25-50mg sebaiknya dimulai pada malam hari,;i.m.50mg.
v  Tiazinamium (Multergan,R.P) adalah derivate N-metil dengan efek antikolinergik kuat. Dahulu sering digunakan pada terapi pemeliharaan terhadap asma, tetapi sudah terdesak oleh obat-obat yang lebih efektif.
v  Oksomemazin (Doxergan,R.P)adalah derivate di-oksi (pada atom S) denagn kerja dan penggunaan sama dengan prometazin, antara lain dalam obat batuk (komp Toplexi). Dosis oral 2-4 kali sehari 5-10mg.
v  Alimemazin (Nedeltran) adalah analog etil dengan efek anti serotonin dan daya neuroleptik cukup baik. Digunakan pada urticaria dan digunakan sebagai obat menidurkan anak-anak, ada kalanya juga pada psikosis ringan. Dosis oral 2-4 kali sehari 5-10mg.
v  Fonazin (Dimetiotiazin, Migristene, R.P.) adalah derivate sulfonamide dengan efek antiserotonin kuat yang dianjurkan pada terapi interval migraine. Dosis oral 3-4 kali sehari 10mg.

 b. Isotipendil : Andantol (Homburg)
            Derivate azo-fenotiazin ini kerjanya lebih pendekdari prometazin dengan efek sedative lebih ringan. Dosis oral 3-4 kali sehari 4-8mg, i.m. atau i.v. 10mg.
v  Mequitazin (Mircol, ACP) adalah derivate prometazin dengan rantai sisi heterosiklik dengan kerja lebih panjang daripada prometazin. Mulai kerjanya juga cepat, efek-efek neurologinya lebih ringan. Digunakan pada hay fever, urticaria dan reaksi-reaksi alregi lainnya. Dosis oral 2 kali sehari 5mg.
v  Metdilazin (Ticaryl, M.J.) adalah derivate heterosiklik pula (pirolidin) dengan efek antiserotonin kuat. Terutama dianjurkan pada urticaria.Dosis oral 2 kali sehari 8 mg.


Referensi :
Deglin,Vallerand.2005.Pedoman Obat Untuk Perawat.jakarta:EGC
FKUI,Bagian Farmakologi.1995.Farmakologi dan Terapi.Edisi 4.Gaya Baru:Jakarta
Kee,Hayes.1996.Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan.Jakarta:EGC

Masalah yang muncul
1.      Dimanakah antihistamin dimetabolisme ?
2.      Amankah jika digunakan terus menerus
3.      Bagaimana mekanisme efek samping
4.      Apa saja contoh obat antihistamin generasi pertama dan kedua
5.    Diantara ketiga derivat diatas yg manakah yg paling aman dikonsumsi
6.   interaksi obat dan makanan ? contohnya dan efek yg terjadi

Jumat, 13 Oktober 2017

identifikasi farmakofor

Farmakofor merupakan deskripsi abstrak dari fitur molekul yang penting untuk rekognisi molekul ligan berdasarkan fungsi makromolekul biologisnya. Menurut (IUPAC), framakofor merupakan ensembel fitur sterik dan elektronik yang diperlukan untuk memastikan interaksi supramolekul interaksi yang optimal dengan struktur biologis target yang spesifik dan untuk memicu atau memblok respon biologisnya. Farmakofor tidak merepresentasikan kondisi nyata molekul atau asosiasi gugus fungsional secara nyata, namun merupakan konsep abstrak yang berhubungan dengan kapasitas interaksi molekuler secara umum dari kelompok senyawa berkaitan dengan struktur targetnya. Farmakofor dapat didefinisikan sebagai denominator umum terbesar yang ditunjukan oleh set molekul yang aktif. Definisi ini menghilangkan kesalahan yang sering ditemukan pada literatur kimia medisinal yang mengandung penamaan farmakofor fungsional kimia sederhana seperti guanidin, sulfonamida atau dihidromidazol (bentuk imidazolin), atau tipikal struktural skeleton seperti flavon,  fenotiazin, prostaglandin atau steroid. Sebuah farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu. Setelah diidentifikasi, farmakofor dapat  berfungsi sebagai model penting untuk screening virtual, terutama dalam kasus dimana struktur 3D dari reseptor tidak diketahui dan teknik docking yang tidak berlaku


tujuan identifikasi farmakofor yaitu:
1. menentukan gugus yang terikat dengan site targetnya
2.  mengetahui konformasi aktif
3. menetukan gugus 3 dimensi
4. sebagai merancang obat
5. merancang obat baru

ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi mulai dari yang lemah (1-2 kJ mol−1) hingga tinggi (>155 kJ mol−1). Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk.  Semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. 

ikatan van der waals
Ikatan van der walls adalah gaya tarik menarik antarmolekul (antar kutub) dalam senyawa yang berikatan kovalen. Gaya ini merupakan gaya antarmolekul yang sangat lemah Mencakup interaksi dipole – dipole (pada senyawa polar) dan interaksi dipole terimbas/terinduksi  (pada senyawa polar dan non polar).

ikatan ion
Ikatan ion merupakan sejenis interaksi elektrostatik antara dua atom yang memiliki perbedaan elektronegatifitas yang besar
 Ikatan ion terjadi apabila :
–          Ikatan antara unsur   logam dan bukan unsur  logam
–          Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil / rendah melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas elektron besar menangkap elektron tersebut (membentuk anion)
–          Unsur logam melepaskan elektron sedangkan unsur non logam menerima elektron

konformasi aktif
diadopsi dari suatu obat ketika brikatan dengan site target reseptornya. konformasi yang stabil adalah konformasi yang diharapkan.

struktur 2D
menetapkan kerangka sederhana molekul obat dimana kerangka itulah berperan dalam berikatan dengan reseptor. ex: morphin.

struktur 3D
mendefinisikan posisi relatif diruang kelompok pengikat penting

masalah yang muncul
1. bagaimana cara mendesain obat baru
2. cara menetukan asam basa lewis
3.bagaimana cara mengidentifikasi farmakofor
4. contoh suiatunobat memiliki farmakofor yang sama dan efeknya
5. bagaimana cara menentukan konformasi aktif dari suatu obat



Fenotiazin adalah antagonis dopamin dan bekerja sentral dengan cara menghambat chemoreseptor trigger zone. Obat ini dipakai untuk profilaksis dan terapi mual dan muntah akibat penyakit neoplasia, pasca radiasi, dan muntah pasca penggunaan obat opioid, anestesia umum, dan sitotoksik. Efek sedasi proklorperazin, ferfenazin, dan trifluoperazin lebih rendah dibanding klorpromazin. Reaksi distonia berat kadang-kadang muncul pada pemakaian fenotiazin, terutama pada anak-anak. Obat antipsikotik lainnya, termasuk haloperidol dan levomepromazin (metotrimeperazin)  juga digunakan untuk meringankan gejala mual.
Beberapa fenotiazin tersedia dalam bentuk suposituria yang dapat bermanfaat bagi pasien yang mengalami muntah terus menerus atau mual berat. Proklorperazin juga tersedia dalam bentuk tablet bukal yang diletakkan diantara bibir atas dan gusi.
Obat antipsikosis juga dikenal sebagai `neuroleptik` dan secara salah diartikan sebagai trankuiliser mayor. Obat antipsikosis pada umumnya membuat tenang tanpa mempengaruhi kesadaran dan tanpa menyebabkan efek kegembiraan paradoksikal (paradoxical excitement) namun tidak dapat dianggap hanya sebagai trankuiliser saja. Untuk kondisi seperti skizofrenia, efek penenangnya merupakan hal penting nomor dua.
Pada penggunaan jangka pendek, digunakan untuk menenangkan pasien yang mengganggu apapun psikopatologi yang mendasarinya, bisa karena skizofrenia, kerusakan otak, mania, delirium toksik, atau depresi teragitasi. Obat antipsikotik digunakan untuk meredakan ansietas berat tetapi ini juga hanya untuk penggunaan jangka pendek. Hanya ada sedikit informasi tentang khasiat dan keamanan obat–obat antipsikotik pada anak–anak dan remaja, dan kebanyakan informasi yang tersedia merupakan ekstrapolasi data orang dewasa. Tidak mungkin membuat rekomendasi pengobatan untuk mengatasi gangguan psikosis, sindrom Gilles de Tourette dan autisme. Pengobatan pada kondisi seperti itu harus dilakukan hanya oleh dokter spesialis yang tepat.
Peringatan dan Kontraindikasi
Antipsikosis sebaiknya digunakan dengan hati–hati pada pasien dengan gangguan hati, gangguan ginjal, penyakit kardiovaskular, penyakit parkinson (dapat diperburuk oleh antipsikotik), epilepsi (dan kondisi yang mengarah ke epilepsi), depresi, miastenia gravis, hipertrofi prostat, atau riwayat keluarga atau individu glaukoma sudut sempit (hindari klorpromazin, perisiazin, dan proklorperazin pada kondisi ini). Perhatian juga diperlukan pada penyakit saluran napas yang berat dan pada pasien dengan riwayat jaundice atau yang memiliki riwayat diskrasia darah (Lakukan hitung darah jika timbul infeksi atau demam yang tidak diketahui penyebabnya).
Efeksamping
Gejala ekstrapiramidal adalah masalah yang paling mengganggu. Gejala ini paling sering muncul pada penggunaan piperazin, fenotiazin (flufenazin, perfenazin, proklorperazin, dan trifluoperazin), butiropenon (benperidol dan haloperidol) serta sediaan bentuk depot. Gejala ini mudah dikenali tetapi tidak dapat diperkirakan secara akurat karena bergantung pada dosis, jenis obat, dan kondisi individual pasien. Gejala ekstrapiramidal termasuk di antaranya:
- Gejala parkinson (termasuk tremor) yang akan timbul lebih sering pada orang dewasa atau lansia dan dapat muncul secara bertahap.
- Distonia (pergerakan wajah dan tubuh yang tidak normal) dan diskinesia, yang lebih sering terjadi pada anak atau dewasa muda dan muncul setelah pemberian hanya beberapa dosis.
- Akatisia (restlessness) yang secara karakteristik muncul setelah pemberian dosis awal yang besar dan mungkin memperburuk kondisi yang sedang diobati.
- Tardive dyskinesia (ritmik, pergerakan lidah, wajah, rahang yang tidak disadari [invuntary movements of tongue, face and jaw]) yang biasanya terjadi pada terapi jangka panjang atau dengan pemberian dosis yang tinggi, tetapi dapat juga terjadi pada terapi jangka pendek dengan dosis rendah. Tardive dyskinesia sementara dapat timbul setelah pemutusan obat.


turunan fenotiazin
turunan fenotiazin mempunyai struktur kimia karakteristik yaitu sistem trisiklik tidak planar yang bersifat lipofil dan rantai samping alkilamino yang terikat pada atom N tersier pusat cincin yang bersifat hidofil. rantai samping tersebut bervariasi dan kebanyan merupakan salah satu struktur sebagai berikut: propildialkilamino, alkilpiperidil atau alkilpiperazin. turunan fenotiazin digunakan untuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang moderat sampai berat, seperti skizofrenia, paronia, psikoneurosis ( ketegangan dan kecemasan ) serta psikosis akut dan kronik. banyak turunan fenotiazin mempunyai aktivitas antiemetik, simpatolitik atau antikolinergik. turunan fenotiazin ini juga mengadakan potensiasi dengan obat- obat sedatif- hipnotika, analgetik narkotik atau anestetika sistemik.
Masalah yang timbul

  1.         Bagaimana  mekanisme efek samping terjadi ?
  2.         Bagaimana bioavaibility dari obat ini ?
  3.          Farmakokinetik dan farmakodinamik fenotiazin ?
  4.       kenapa  fenotiazin mengadakan potensiasi dengan obat- obat sedatif- hipnotika, analgetik narkotik atau anestetika sistemik.
  5.       apakah obat ini aman jika diindikasikan untuk wanita hamil bagaimana pengaruhnya dengan janin
  6.       dimanakah fenotiazin dimetabolisme



Kamis, 12 Oktober 2017

oxamniquine

Oxamniquine pertama kali digunakan secara medis pada tahun 1972. Ini ada dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia, obat-obatan yang paling efektif dan aman yang dibutuhkan dalam sistem kesehatan. Ini tidak tersedia di Amerika Serikat. Ini lebih mahal dari pada praziquantel
Oxamniquine, dijual dengan merek Vansil antara lain, adalah obat yang digunakan untuk mengobati schistosomiasis akibat schistosoma mansoni. sering kali pengobatan yang disukai. Ini diberikan melalui mulut dan digunakan sebagai dosis tunggal.

struktur oxamniquine


farmakokinetik
Konsentrasi plasma puncak dicapai satu sampai tiga jam setelah satu dosis, dan waktu paruh plasma 
adalah 1,0 sampai 2,5 jam. obat ini dimetabolisme secara ekstensif pada metabolit tidak aktif, 
terutama derivatif 6 karboksi, yang diekskresikan dalam urin. Sekitar 70% dari dosis 
oxamniquine diekskresikan sebagai metabolit 6 karbohidrat selama 12 jam dosis metabolit 
2 karboksin juga telah terdeteksi dalam urin.

mekanisme aksi
obat ini adalah anthelmintik dengan aktivitas schistosomicidal melawan Schistosoma mansoni, namun tidak melawan Schistosoma spp lainnya. Oxamniquine adalah agen dosis tunggal ampuh untuk pengobatan infeksi S. mansoni, dan ini menyebabkan cacing bergeser dari pembuluh darah mesenterika ke hati, di mana cacing jantan dipertahankan; cacing betina kembali ke mesenterium, tapi tidak bisa lagi melepaskan telur. Oxamniquine adalah tetrahydroquinoline semisynthetic dan mungkin dilakukan dengan cara mengikat DNA, mengakibatkan kontraksi dan kelumpuhan cacing dan pelepasan akhirnya dari venula terminal di mesentry, dan kematian. Mekanisme biokimianya dihipotesiskan terkait dengan efek antikolinergik, yang meningkatkan motilitas parasit, serta penghambatan sintesis asam nukleat. Oxamniquine bekerja terutama pada cacing jantan, tapi juga menginduksi perubahan kecil pada sebagian kecil betina. Seperti praziquantel, ia meningkatkan kerusakan yang lebih parah pada tegument dorsal daripada permukaan ventral. Obat tersebut menyebabkan cacing jantan beralih dari sirkulasi mesenterika ke hati, dimana respon pembawa seluler menyebabkan eliminasi akhirnya. Perubahan yang terjadi pada betina bersifat reversibel dan terutama disebabkan oleh stimulasi laki-laki yang dihentikan daripada efek langsung dari oxamniquine.


masalah yang terjadi
1. bagaimana cara mencari HBA, HBD, Van der walls, dan muatan ion
2. bagaimana identifikasi farmakofor nya 
3. bagaimana cara penggunaan oxamniquine
4. bagaimani jika dikonsumsi terus menerus efek apa yang akan terjadi
5. bagaimana gejala klinis yang ditimbulkan

Selasa, 10 Oktober 2017



obat- obatan analgetik

Analgetika adalah obat-obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Analgetika pada umumnya diartikan sebagai  suatu obat yang efektif untuk menghilangkan sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan nyeri lain misalnya nyeri pasca bedah dan pasca bersalin, dismenore (nyeri haid) dan lain-lain sampai pada nyeri hebat yang sulit dikendalikan.  Hampir semua analgetik ternyata memiliki efek antipiretik dan efek anti inflamasi.
Rangsang yang menimbulkan rasa nyeri ialah kerusakan pada jaringan, atau gangguan metabolisme jaringan. Hal ini mengakibatkan perubahan pada konsentrasi lokal ion (penurunan harga pH jaringan, peninggian konsentrasi ion kalium ekstrasel) maupun pembebasan senyawa mediator. Sebagai akibatnya, reseptor nyeri (nosiseptor) yang terdapat dikulit, didalam jaringan yang terdapat didalam kerangka otot, jaringan ikat, dan selaput tulang dapat terangsang. Tergantung pada letak timbulnya rasa nyeri dapat dibedakan antara nyeri permukaan, nyeri yang dalam dan nyeri viceral, yang secara kualitatif dialami dengan cara yang berbeda. Dari reseptor, nyeri dikonduksi sebagai impuls listrik yang bersusulan (potensial aksi) melalui urat saraf sensorik (urat saraf nyeri) ke sumsum tulang belakang dan akhirnya melalui otak tengah (talamus) ke sinusoid pusat posterior dari otak besar, dimana terjadi kesadaran akan nyeri
Patofisiologi Nyeri
Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi serta sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tidak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha bebas darinya. Pada beberapa penyakit, misalnya pada tumor ganas dalam fase akhir, meringankan nyeri kadang-kadang merupakan satusatunya tindakan yang berharga. Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala yang fungsinya member tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan oleh rangsangan mekanisme atau kimiawi, panas atau listrik yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri. Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui saraf sensoris ke sistem saraf pusat (SSP), melalui 7 sumsum tulang belakang ke talamus optikus kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar dimana rangsang terasa sebagai nyeri. 
Analgesik anti inflamasi diduga bekerja berdasarkan penghambatan sintesis prostaglandin (penyebab rasa nyeri). Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam tiga kategori:
·    Nyeri ringan (sakit.gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid dll), dapat diatasi dengan asetosal, paracetamol bahkan placebo.
·        Nyeri sedang (sakit punggung, migrain, rheumatik), memerlukan analgetik perifer kuat.
·        Nyeri hebat (kolik/kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu ginjal, kanker ), harus diatasi dengan analgetik sentral atau analgetik narkotik.

Obat Analgesik non-opioid atau non-narkotik Merupakan jenis obat analgesik yang paling umum digunakan. Obat analgesik golongan ini sering dikenal dengan istilah Analgetik Perifer, karena mekanisme kerja dari obat golongan ini yang bekerja pada reseptor nyeri yang berada di daerah yang sekitar nyeri, tidak memberikan pengaruh pada sistem susunan saraf pusat sehingga obat golongan ini cenderung tidak menurunkan tingkat kesadaran, dan juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada penggunanya. Macam-macam obat analgesik non-opioid yaitu :
  1. Paracetamol/acetaminophen : merupakan devirat para amino fenol. Paracetamol banyak digunakan untuk mengatasi nyeri yang sifatnya ringan hingga sedang seperti pada saat luka ringan, sakit kepala, dan nyeri otot, selain sebagai analgesik paracetamol juga dapat digunakan untuk menurunakan demam atau antipiretik, namun paracetamol kurang memiliki efek anti radang atau inflamasi sehingga tidak efektif digunakan untuk mengatasi nyeri yang disebabkan oleh peradangan seperti pada nyeri rematik. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik pada saat ini telah menggantikan penggunaan salisilat atau aspirin.
  2. Obat anti-inflamasi non steroid (NSAID) merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengurangi peradangan. Sehingga dapat mengurangi nyeri yang disebabkan oleh peradangan seperti pada rematik tulang maupun rematik sendi. NSAID juga dapat digunakan untuk mengatasi nyeri yang sifatnya ringan hingga sedang, efek analgesiknya muncul dengan cepat. Pada saat sekarang terdapat lebih dari 20 macam tipe NSAID yang berbeda. NSAID sebaiknya tidak digunakan berlebihan karena dapat menimbulkan efek samping berupa nyeri lambung hingga pendarahan pada lambung. Contoh obat analgesik NSAID ini antara lain Ibuprofen, Aspirin, Asam mefenamat, Dikofenak, Ketorolak, Meloxicam, Indometasin, dan lain-lain. Namun hanya Ibuprofen, Asam mefenamat dan Aspirin yang paling banyak digunakan.                            Obat Analgesik opioid atau narkotik Sesuai dengan namanya analgesik opioid merupakan golongan obat analgesik yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau narkotik. Opioid disebut juga analgesik sentral karena kerjanya yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Golongan obat ini umumnya digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang sifatnya sedang hingga berat seperti pada kedaan fractur atau patah tulang dan kanker. Beberapa efek samping yang umum dari opioid adalah mual muntah, konstipasi, mengantuk, pusing, penurunan konsentrasi, kebingungan, dan penurunan pada kemampuan bernafas. Macam – macam obat analgesik opioid yang sering digunakan yaitu Codein, Tramadol, Morfin, Metadon, Fentanil. Opioid dapat menimbulkan efek samping yang lebih banyak dibandingkan analgesik non opioid bahkan dapat menyebabkan ketergantungan dan kecanduan sehingga obat – obat golongan ini tidak dijual bebas, hanya tersedia melalui peresepan dan dalam pengawasan yang ketat oleh dokter.
1. Codeine adalah obat golongan analgesik opioid yang digunakan untuk meredakan rasa nyeri ringan hingga berat. Obat ini bekerja secara langsung pada sistem saraf pusat untuk mengurangi rasa sakit yang dialami. Dalam kasus tertentu, codeine juga dapat digunakan untuk meringankan gejala batuk dan mengobati kondisi diare akut. Codeine dapat memicu ketergantungan jika tidak dikonsumsi sesuai dengan anjuran dokter. Pastikan Anda tidak menambah dosis atau menghentikan pengobatan secara mendadak agar terhindar dari gejala putus obat atau efek samping berbahaya lainnya, seperti napas pendek, overdosis, atau kematian.

2. tramadoladalah salah satu obat pereda rasa sakit kuat yang digunakan untuk menangani nyeri sedang hingga berat (misalnya nyeri setelah operasi). Tramadol bekerja dengan cara memengaruhi reaksi kimia di dalam otak dan sistem saraf yang pada akhirnya mengurangi sensasi rasa sakit.

3. Morfin adalah jenis obat yang masuk ke dalam golongan analgesik opium atau narkotik. Obat ini digunakan untuk mengatasi rasa sakit yang terbilang parah dan berkepanjangan atau kronis, seperti misalnya nyeri pada kanker stadium lanjut. Morfin bekerja pada saraf dan otak sehingga tubuh tidak merasakan rasa sakit. Meskipun memiliki manfaat besar, morfin sangat menyebabkan ketergantungan. Risiko ketergantungan ini bahkan lebih tinggi lagi pada pasien yang di masa lalunya pernah kecanduan alkohol atau narkoba.Menghentikan pengobatan morfin yang telah berlangsung jangka panjang tidak bisa dilakukan sekaligus, terutama pada pasien yang menggunakan morfin dalam dosis besar. Hal ini dapat menimbulkan gejala putus obat seperti kegelisahan, tubuh berkeringat, nyeri otot, dan mual. Untuk mengatasinya dokter akan mengurangi dosis secara bertahap hingga pasien benar-benar lepas dari morfin.

4. metadon merupakan jenis obat yang termasuk dalam golongan analgesik opium. Obat ini digunakan sebagai pengganti obat-obatan narkotika yang menyebabkan kecanduan, contohnya heroin, dalam proses rehabilitasi yang dijalani oleh pecandu narkotika. Kinerja obat ini adalah dengan mencegah gejala-gejala putus obat akibat berhenti mengonsumsi narkotika.Selain gejala putus obat, methadone dapat digunakan sebagai pereda rasa sakit. Namun, hanya untuk rasa sakit yang parah dan berkepanjangan bila obat analgesik kuat lain tidak cocok.
5. Fentanyl adalah jenis obat opiat yang memiliki fungsi sebagai pereda rasa sakit kuat. Obat ini bekerja dengan mengikat beberapa reseptor opioid di sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) yang akan menurunkan kemampuan pasien untuk merasakan sakit serta bereaksi terhadap rasa sakit.


masalah yang timbul

  1.  kenapa metadon digunakan untuk menggantikan obat narkotik? apakah efek sampingnya lebih ringan?
  2. apakah semua obat analgetik golongan opioid dapat digunakan untuk wanita hamil?
  3. menurut anda untuk nyeri ringan seperti sakit gigi, analgetik non narkotik yg mana yg paling tepat digunakan ? kenapa obat tersebut anda pilih ?










https://mediskus.com/obat/mengenal-obat-analgesik
https://pharmacycorner.wordpress.com/info-obat/obat-analgetik/
http://www.alodokter.com

Jumat, 06 Oktober 2017


domperidone

Domperidone adalah obat untuk meningkatkan pergerakan lambung dan usus. Domperidone juga digunakan untuk mengobati mual dan muntah, terutama yang disebabkan oleh obat lain. Domperidone adalah obat anti-emetik yaitu obat yang membantu mengurangi rasa mual, peningkatan asam lambung dan gas di dalam lambung, serta mengurangi dorongan untuk muntah. Obat ini biasa diberikan oleh dokter sebagai pengobatan jangka pendek bagi pasien dengan gejala tersebut. Obat domperidone bekerja dengan mempercepat proses pencernaan di lambung sehingga makanan yang dikonsumsi dapat segera masuk ke dalam usus. Domperidone termasuk dalam obat resep yang penggunaannya harus berdasarkan anjuran dokter dan tidak dianjurkan untuk diberikan dalam pengobatan jangka panjang.

Mekanisme Kerja Domperidone

Dalam membantu mengatasi mual, muntah dan dispepsia akibat gangguan pencernaan, domperidone bekerja dengan dua mekanisme. Pertama, domperidon membantu mengosongkan lambung. Pengosongan lambung terjadi karena domperidon memicu gerak peristaltik oesophagus dan usus serta mereganggan sphincter oesophagus di lambung. Dengan begitu makanan segera terdorong keluar dari lambung menuju usus. Mekanisme lainnya, domperidon memblokir kemoreseptor dopamine di otak lebih tepatnya reseptor dopamine D2 dan D3. Dengan terblokirnya kemoreseptor maka dorongan untuk muntah dapat dihindari karena kedua reseptor tersebut merupakan triger yang memicu terjadinya muntah.
Farmakologi

Absorpsi (1) : Per oral : Bioavailabilitas 13-17%. Rendahnya bioavailabitas sistemik ini disebabkan oleh metabolisme lintas pertama di hati dan metabolisme pada dinding usus. Pengaruh metabolisme pada dinding usus jelas terlihat pada adanya peningkatan bioavailabilitas dari 13% ke 23% jika Domperidon tablet diberikan 90 menit sebelum makan dibandingkan jika diberikan dalam keadaan perut kosong. Konsentrasi puncak dicapai dalam waktu 30-110 menit. Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak lebih lama jika obat diminum sesudah makan. Per rektal : Bioavailabilitas 12%.  Konsentrasi puncak dicapai dalam waktu 1 jam
Distribusi (1) : 91-93% terikat pada protein plasma. Volume distribusi : 5,71 L/kg
Metabolisme (1) :  terutama di hati (metabolisme lintas pertama)
Eliminasi (1,5) : waktu paruh eliminasi : 7-9 jam. Sekitar 30% dari dosis oral diekskresi lewat urine dalam waktu 24 jam. Hampir seluruhnya diekskresi sebagai metabolit.
Sisanya diekskresi dalam feses dalam beberapa hari, sekitar 10% sebagai bentuk yang tidak berubah.
Efek Samping :
  • Jarang dilaporkan : sedasi, reaksi ekstrapiramidal distonik, parkinson, tardive diskinesia (pada pasien dewasa dan usia lanjut) dan dapat diatasi dengan obat antiparkinson.
  • Peningkatan prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktorrhoea dan ginekomastia.
  • Mulut kering, sakit kepala, diare, ruam kulit, rasa haus, cemas dan gatal.

masalah yang timbul
1. apakah domperidone mengalami first pass effect?
2. bagaimana jika digunakan terus menerus
3. bagaiamana mekanisme terjadi nya peningkatan proklatin
4. jika dikonsumsi pasca operasi pada saluran gastrointestinal, bagaimana dosisnya?




https://mediskus.com/domperidone
Briggs, Drugs in Pregnancy and Lactation, 7th ed, 2005
MIMS, 105th edition, 2006 / 2007
Martindale, 35th edition, 2007