Kamis, 19 Oktober 2017

antihistamin

Antihistamin adalah obat atau komponen obat yang berfungsi untuk menghalangi kerja zat histamin dan dipakai khususnya untuk mengobati alergi. Antihistamin biasa digunakan untuk mengobati rhinitis, alergi musiman, reaksi alergi akibat sengatan serangga, pruritus dengan gejala gatal, dan urtikaria atau biduran, alergi mata, dan alergi makanan. Selain itu, antihistamin juga bisa digunakan sebagai obat darurat untuk mengatasi anafilaksis (anafilaktik) atau reaksi alergi yang tergolong berat dan mematikan. Tidak hanya alergi, antihistamin juga kerap digunakan untuk mengatasi gejala mual atau muntah yang biasanya diakibatkan oleh mabuk kendaraan
Ada dua jenis antihistamin, yaitu antihistamin generasi pertama dan generasi kedua. Antihistamin generasi pertama adalah jenis yang dapat menyebabkan rasa kantuk setelah digunakan, sedangkan antihistamin generasi kedua tidak terlalu menimbulkan rasa kantuk.
Efek-Efek Samping
            Yang paling sering terjadi adalah efek sedative-hipnotiknya (rasa kantuk) akibat depresi SSP (dan daya antikolinergiknya). Efek ini terkuat pada prometazin dan difenhidramin dan agak ringan pada d-klorfeniramin dan mebhidrolin, walaupun sifat ini sangat berfariasi secara individual. Dua obat baru, terfenadin dan astemizol, tidak memiliki efek samping ini dan merupakan antihistaminika satu-satunya yang boleh diberikan dengan aman pada pengemudi kendaraan bermotor. Pada umumnya dalam beberapa minggu terjadi toleransiuntuk efek sedative-hipnotik ini.
            Efek-efek sental lainnya berupa pusing-pusing, gelisah, rasa letih, lesu,dan tremor(tangan gemetar), sedangkan overdose dapat mengakibatkan konvulasi dan koma.
            Gangguan-gangguan lambung-usus juga sering terjadi dan berkisar antara mual, muntah dan diarea sampai anoreksia dan obstipasi. Efek-efek ini dapat dikurangi dengan menelan obat setelah makan.
            Efek-efek antikolinergik dapat terjadi, seperti mulut kering, gangguan penglihatan dan gangguan lambung-usus, obstipasi dan retensi kemih. Berhubung sifat ini antihistaminika hendaknya jangan diberikan pda pasien glukoma dan hipertrofia prostat.
Efek antiserotonin ada hubungannya dengan meningkatnya nafsu makan dan berat badan, maka bila efek ini tidak diinginkan, untuk penggunaan lam sebaiknya jangan diberikan siproheptadin dan oksatomida.
Alergi dapat terjadi pada pemberian oral, tetapi khususnya pada penggunaan local. Obat-obat denga efek stabilisasi atas mastcell pada dosis tinggi mempertunjukkan efek paradorsal, yaitu justru menstimulasi pelepasan histamine (histamine-liberator) bahkan tanpa adanya antigen. Efek ini mungkin disebabkan kerja merusaknya terhadap membrane sel.
Efek teratogen dari siklizin dan turunannya meklozin serta klorsiklizin telah dibuktikan pada hewab percobaan, tetapi tak pernah pada manusia. Namun obat-obat ini tidak dianjurka pada wanita hamil.
 Penggolongan
Menurut struktur kimianya antihistaminika dapat dibagi dalam beberapa kelompok, antara lain :

1.Devirat-devirat Etanolamin
Zat-zat ini berdaya antikolinergik dan sedative agak kuat
a.Diferenhidramin : Benadryl(P.D)
disamping daya antikolinergik dan sedative yang kuat, antihistamin ini juga bersifat spasmolitik, anti-emetik & antivertigo (pusing-pusing). Berguna sebagai obat tambahan pada penyakit Parkinson, juga digunakan sebagai obat anti gatal pada urticaria akibat alergi.
Dosis: oral 4xsehari 25-50mg, i.v.10-50mg
v  2-metildifenhidramin = orfenadrin (Disipal,G.B) denagn efek anti-kolinergik dan sedative ringan, lebih disukai sebagai obat tambahan Parkinson dan terhadap gejala-gejala ekstrapiramidal pada terapi dengan neuruleptika. Dosisnya: oral 3 kali sehari 50mg.
v  4-metildifenhidramin (Neo-Benodin) lebih kuat sedikit dari zat induknya. Digunakan pada keadaan-keadaan alergi pula dengan dosis oral 3xsehari 20-40mg.
v  Dimenhidrinat (Dramamine, Searle) adalah senyawa klorteofilinat dari diferenhidramin yang digunakan khusus pada mabuk jalan dan muntah-muntah sewaktu hamil. Dosisnya 4x sehari 50-100mg, i.m. 50mg.
v  Klorfenoksamin (Systral,Astra) adalah derivate klor & metal, yang antara lain digunakan sebagai obat tambahan pada penyakit Parkinson.Dosisnya : oral 2-3x sehari 20-40mg (klorida), dalam krem 1,5%.
v  Karbinoksamin (Polistin,Pharbil) adalah derivate piridil dan klor yang digunakan pada hay fever dengan dosis oral 3-4x sehari 4mg (maleat,bentuk-dl).

b.Klemastine : Tavegyl (Sandoz)
memiliki struktur yang mirip klorfenoksamin, tetapi dengan substituent siklik (pirolidin). Daya antihistaminikanya amat kuat, mulai kerjanya pesat, dalam beberapa menit dan bertahan lebih dari 10 jam. Antara lain mengurangi permeabilitas dari kapiler dan efektif guna melawan pruritus alergis (gatal-gatal). Dosis oral 2x sehari 1mg a.c.(fumarat),i.m.2x2mg.

2. Devirat-devirat Etilendiamin
Obat-obat dari kelompok ini umumnya memiliki daya sedatife yang lebih ringan.
v  Antazolinfenazolin, Antistin (Ciba)
Daya antihistaminiknya kurang kuat, tetapi tidak merangsang selaput lender. Maka layak digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung (salesma) sebagai preparat kombinasi dengan nafazolin(Antistin-Privine, Ciba).
Dosis oral 2-4x sehari 50-100mg (sulfat).
v  Tripelenamin (Tripel,Corsa-azaron, Organon) kini hanya digunakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal akibat reaksi alergi (terbakar sinar matahari,sengatan serangga,dll).
v  Mepirin (Piranisamin) adalah derivate metoksi dari tripenelamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feniramin dan fenilpropanolamin (Triaminic,wander) pada hay fever dengan dosis 2-3x sehari 25 mg (bitab).
v  Klemizol (Allercur, Schering) adalah derivate klor yang kini hanya digunakan dalam preparat kombinasi anti-selesma (Apracur,Schering) atau dalam salep/suppositora antiwasir (Scheriproct, Ultraproct,Schering)

3. Devirat-devirat Propilamin
Obat-obat dari kelompok ini memiliki daya antihistaminic kuat.
a.Feniramin : Avil (Hoechst)
Zat ini berdaya antihistaminic baik dengan efek meredakan batuk yang cukup baik, maka digunakan pula dalam obat-obat batuk. Dosis oral 3x sehari 12,5-25mg (maleat) pada malam hari atau 1x 50mg tablet retart; i.v. 1-2x sehari 50mg; krem 1,25%.
v  Klorfenamin (klorfeniramin,dl-,Methyrit,SKF) adalah deriver klor dengan daya 10x lebih kuat, sedangkan derajad toksisitasnyapraktis tidak berubah. Efek-efek sampingnya antara lain sifat sedatifnya ringan. Juga digunakan dalam obat batuk. Bentuk dextronya adalah isomer aktif, maka2 kali lebih kuat daripada bentuk dl (rasemis) nya :dexklorfeniramin (Polaramin, scering).
Dosis: 3-4 kali sehari 3-4 mg (dl, maleat) atau 3-4 kali sehari mg (bentuk-d).
v   Bromfeniramin (komb. Ilvico, Merck) adalah derivat brom yang sama kuatnya dengan klorfenamin, padamana isomer-dextro juga aktif dan isomer-levo tidak. Juga digunakan sebagai obat batuk. Dosis: 3-4 kali sehari 3 mg (maleat).
b. TripolidinPro-Actidil (Wellcome)
Derivat dengan rantai-sisi pirolidin ini berdaya agak kuat, mulai kerjanya pesat dan bertahan lama, sampai 24 jam (sebagai tablet retard). Dosis: oral 1 kali sehari 10 mg (klorida) pada malam hari berhubung efek sedatifnya. 
4. Derivat-derivat Fenotiazin
            Senyawa-senyawa trisiklik ini memiliki daya antihistamin dan antikolonergik yang tidak begitu kuat dan sering kali berdaya sentral kuatdengan efek neuroleptik. Maka banyak turunannya digunakan sebagai neuroleptika pada keadaan psikosis. Berhubung dengan efek sedative dan meredakan batuknya,sering digunakan pula dalam obat batuk.
a.Prometazin : Phenergan(R.P)
            Antihistamin tertua ini (1949) digunakan pada reaksi-reaksi alergi akibat serangga dan tumbuh-tumbuhan, sebagai antiemetic untuk mencegah mual dan mabuk jalan. Selain itu juga pada pusing-pusing(vertigo) dan sebagai sedativum pada batuk dan sukar tidur, terutama pada anak-anak.
            Efek-efek sampingnya berupa umum, kadang-kadang terjadi hipotensi, fotosensibilisasi, hipotermia (suhu badan rendah) dan efek-efek darah (leucopenia, agranulocytosis). Semua fenotiazin dapat menimbulkan reaksi-reaksi ini.
            Dosis oral 3x sehari 25-50mg sebaiknya dimulai pada malam hari,;i.m.50mg.
v  Tiazinamium (Multergan,R.P) adalah derivate N-metil dengan efek antikolinergik kuat. Dahulu sering digunakan pada terapi pemeliharaan terhadap asma, tetapi sudah terdesak oleh obat-obat yang lebih efektif.
v  Oksomemazin (Doxergan,R.P)adalah derivate di-oksi (pada atom S) denagn kerja dan penggunaan sama dengan prometazin, antara lain dalam obat batuk (komp Toplexi). Dosis oral 2-4 kali sehari 5-10mg.
v  Alimemazin (Nedeltran) adalah analog etil dengan efek anti serotonin dan daya neuroleptik cukup baik. Digunakan pada urticaria dan digunakan sebagai obat menidurkan anak-anak, ada kalanya juga pada psikosis ringan. Dosis oral 2-4 kali sehari 5-10mg.
v  Fonazin (Dimetiotiazin, Migristene, R.P.) adalah derivate sulfonamide dengan efek antiserotonin kuat yang dianjurkan pada terapi interval migraine. Dosis oral 3-4 kali sehari 10mg.

 b. Isotipendil : Andantol (Homburg)
            Derivate azo-fenotiazin ini kerjanya lebih pendekdari prometazin dengan efek sedative lebih ringan. Dosis oral 3-4 kali sehari 4-8mg, i.m. atau i.v. 10mg.
v  Mequitazin (Mircol, ACP) adalah derivate prometazin dengan rantai sisi heterosiklik dengan kerja lebih panjang daripada prometazin. Mulai kerjanya juga cepat, efek-efek neurologinya lebih ringan. Digunakan pada hay fever, urticaria dan reaksi-reaksi alregi lainnya. Dosis oral 2 kali sehari 5mg.
v  Metdilazin (Ticaryl, M.J.) adalah derivate heterosiklik pula (pirolidin) dengan efek antiserotonin kuat. Terutama dianjurkan pada urticaria.Dosis oral 2 kali sehari 8 mg.


Referensi :
Deglin,Vallerand.2005.Pedoman Obat Untuk Perawat.jakarta:EGC
FKUI,Bagian Farmakologi.1995.Farmakologi dan Terapi.Edisi 4.Gaya Baru:Jakarta
Kee,Hayes.1996.Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan.Jakarta:EGC

Masalah yang muncul
1.      Dimanakah antihistamin dimetabolisme ?
2.      Amankah jika digunakan terus menerus
3.      Bagaimana mekanisme efek samping
4.      Apa saja contoh obat antihistamin generasi pertama dan kedua
5.    Diantara ketiga derivat diatas yg manakah yg paling aman dikonsumsi
6.   interaksi obat dan makanan ? contohnya dan efek yg terjadi

38 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. assalamualaikum wr wb
    hay meily saya sakan mencoba menjawab pertnyaan no 4 . dari sunber yang saya dapatkan
    Generasi pertama. Jenis ini memiliki efek menenangkan. Ketika diminum, ada efek samping umum yang bisa Anda rasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram dan sulit mengosongkan kandung kemih.

    Jenis-jenis antihistamin generasi pertama antara lain clemastine, alimemazine, chlorphenamine, cyproheptadine, hydroxyzine, ketotifen dan promethazine.

    Generasi kedua. Jenis ini tidak memiliki efek penenang. Ketika diminum, efek mengantuk tidak akan sebesar obat generasi pertama. Meski begitu, Anda tetap harus berhati-hati ketika mengonsumsinya sambil mengemudi dan mengoperasikan alat berat. Karena efek mengantuk masih mungkin bisa terjadi. Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama. Efek sampingnya yaitu mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan merasa mual.

    Jenis-jenis antihistamin generasi kedua antara lain fexofenadine, levocetirizine, loratadine, mizolastine acrivastine, cetirizine, dan desloratadine.

    BalasHapus
  3. Hai meily
    Untuk pertanyaan no 1 . Masing masing jenis antihistamin memiliki tempat metabolisme berbeda di dalam tubuh
    Contohnya saja difenhidramin termetabolisme di hati sedangkan klorfeniramin dimetabolisme dihati dan mukosa saluran pencernaan selama proses absorpsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ingin mencoba menambahkan jawaban dari kak letha yaitu di Hepar merupakan tempat metabolisme utama (70-90%), dengan sedikit obat yang diekskresi dalam urin dalam bentuk yang tidak berubah.

      Hapus
    2. saya akan menambahkan jawaban no 1

      minsalnya jika Pemberian antihistamin H1 secara oral bisa diabsorpsi dengan baik dan mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%. Sebagian besar antihistamin H1 dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system. Konsentrasi plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati.
      Waktu paruh antihistamin H1 sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki waktu paruh cukup panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam. Waktu paruh metabolit aktif juga sangat berbeda jauh dengan obat induknya, seperti astemizole 1,1 hari sementara metabolit aktifnya, N-desmethylastemizole, memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa efek antihistamin H1 rata-rata masih eksis meski kadarnya dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, danm pasien yang menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal oxygenase lainnya.

      Hapus
  4. untuk pertanyaan no 4.
    Contoh obat antihistamin generasi pertama adalah chlorphenamine, promethazine, ketotifen, alimemazine, cyproheptadine, hydroxyzine, dan clemastine.
    Contoh obat antihistamin generasi kedua adalah loratadine, fexofenadine, cetirizine, mizolastine, desloratadine, acrivastine, dan levocetirizine.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar sekali. Jadi Generasi pertama dan kedua berbeda dalam dua hal yang signifikan. Generasi pertama lebih menyebabkan sedasi dan menimbulkan efek antikolinergik yang lebih nyata. Hal ini dikarenakan generasi pertama kurang selektif dan mampu berpenetrasi pada sistem saraf pusat (SSP) lebih besar dibanding generasi kedua. Sementara itu, generasi kedua lebih banyak dan lebih kuat terikat dengan protein plasma, sehingga mengurangi kemampuannya melintasi otak.

      Hapus
    2. Saya sependapat sama saudari sholeha, karena generasi pertama efek sampingnya juga sangat banyak sedangkan efek samoing generasi kedua lebih sedikit sehingga generasi kedua lebih aman dri generasi pertama

      Hapus
  5. Untuk pertanyaan no 4, menurut sumber yang saya baca ada berbagai interaksi antihistamin dengan makanan beberapa contohnya seperti dibawah ini :
    - hindari minum Terfenadin bersama jus grapefruit karena dapat meningkatkan terjadinya peningkatan efek samping kardiotoksisitas akibat terjadinya peningkatan kadar obat dalam tubuh terutama pada penderita dengan resiko tinggi.
    - Alkohol : konsumsi bersama alkohol akan meningkatkan efek samping mengantuk dan mengurangi kewaspadaan.
    - obat diminum bersamaan dengan Kafein (kopi, teh) dapat mengurangi efek mengantuk.

    Sumber : https://ruditadewi14.wordpress.com/2014/06/06/interaksi-obat-dan-makanan/

    BalasHapus
  6. Sebagian besar obat di metabolisme di hati

    BalasHapus
  7. utk nmr 2
    mnrt saya aman tdk nya suatu obat trgantung kekebalan tubuh seseorg dan lbh baik di gunakan nya sesuai anjuran dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan menambahkan jawaban dari ana.
      penggunaan obat antihistamin harus sesuai dengan anjuran dokter. Untuk AH1 segera hentikan pengobatan jika alerginya telah berhenti dan sebaiknya dihindari penggunaan secara terus menerus.

      Hapus
  8. nmr 3
    mnrt saya efek samping obat ini
    gangguan pencernaan hingga munculnya ruam pada kulit yang menimbulkan gatal-gatal.

    BalasHapus
  9. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2, menurut saya obat anti histamin ini tidak aman bila dikonsumSi terus menerus karena menurut literatur yang saya baca pemakaian beberapa antihistamin dalam jangka waktu lama akan meningkatkan aktivitas enzim mikrosoma hati, hal ini mengakibatkan peningkatan metabolisme antihistamin dan obat-obat lain yang di makan bersama-sama

    BalasHapus
  10. Hai meily
    Terkait pertanyaan no 6, kebanyakan interaksi obat antihistamin adalah dengan obat lainnya seperti obat yg mempengaruhi ssp. Interaksi lain yang didapat seperti pada obat azatadin maleat adalah alkohol. Alkohol, anti depresan trisiklik, barbiturat atau depresan SSP lain memperkuat efek sedatif. Efek anti koagulan oral mungkin dihambat.

    BalasHapus
  11. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 5,
    menuruut saya derivat yang paling aman dikonsumsi adalah Devirat-devirat Propilamin yang tidak menimbulkan efek sedatif

    BalasHapus
  12. Antihistamin dimetabolisme di hati

    BalasHapus
  13. Pertanyaan no.4
    Secara kimiawi, antihistamin terdiri atas beberapa kelompok persenyawaan kimia yang berbeda dan secara garis besar dibagi atas 2 grup, yaitu :

    Generasi I : etolamin (difenhidramin, klemastin, karbinoksamin, doksilamin, dan dimenhidrinat), etilendiamin (pirilamin, tripelenamin, antazolin, dan mepiramin), alkilamin (klorfeniramin dan bromfeniramin), piperazin (hidroksizin, siklizin, dan meklizin), dan fenotiazin (prometazin, mekuitazin, dan trimeprazin).
    Generasi II : alkilamin (akrivastin), piperazin (setirizin), piperidin (astemizol, levokabastin, loratadin, terfenadin, dan fleksofenadi) dan lainnya, yaitu siproheptadin.

    Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

    BalasHapus
  14. 1. antihistamin dimetabolisme dihati

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan jawaban kak yanti, jadi penggunaan antihistamin dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan fungsi hati

      Hapus
  15. Saya akan menjawab pertanyaan no.2. Dimana setiap obat yang digunakan terlebih lagi obat sintetis pasti akan memberikan efek samping. Tidak terkecuali untuk obat-obat antihistamin. Semakin lama penggunaan suatu obat termasuk antihistamin maka akan semakin tidak baik bagi kondisi tubuh pasien.

    BalasHapus
  16. assalamualaikum meily saya akan menambah kan sedikit. Menurut artikel yang saya baca, antihistamin yang sering digunakan adalah H1 contoh nya pada buat ibu hamil adalah loratadin. Namun, menurut FDA, antihistamin pilihan pertama adalah klorfeniramin (CTM) dan difenhidramin. Sekalipun dikelompokkan aman, obat-obat ini hanya boleh dikonsumsi dalam jangka pendek. Tidak boleh sampai berhari-hari. Bagaimanapun, bayi adalah makhluk hidup yang bisa merasakan efek samping kantuk dari CTM atau difenhidramin.
    Dan menurut saya solusi nya yaitu sebisa mungkin hindari obat yang diminum. Jika kita mengalami alergi akibat sesuatu yang bersentuhan dengan kulit, sebaiknya berusaha mengobatinya dengan obat-obat yang digunakan secara lokal (topikal) alias dioleskan atau ditaburkan di kulit. Misalnya, sebelum memutuskan minum CTM atau difenhidramin, lebih baik mencoba bedak obat kulit lebih.Terimakasih

    BalasHapus
  17. 6. Antihistamin tidak banyak berinteraksi dengan makanan, tetapi penggunaan histamin hendaknya dihindari bersama alkohol karena dapat memicu munculnya efek toksik.

    BalasHapus
  18. 4. AH generasi pertama: klorfeniramine, difenhidramine,
    prometazin. AH generasi kedua: Astemizol, Cetirizine, loratadine,

    BalasHapus
  19. 5. AH generasi ketiga. Kadar antihistamin Generasi ke3 ini dalam plasma mempunyai batas keamanan yang lebih baik, sehingga dapat digunakan secara luas seperti pada rinitis alergika, urtikaria dan kemungkinan untuk asma.

    BalasHapus
  20. 1. Metabolisme di hati dengan enzim cytochrome P450

    BalasHapus
  21. No.4, antihistamin generasi pertama : tripelennamin, oksomemazin, prometazin. generasi kedua : astemizol, terfenadin, dan fexofenadin

    BalasHapus
  22. saya akan mencba menjawab prtnyaan no. 2 menurut saya sebaiknya tdk d gunakan terus menerus karna obat antihistamin ini juga bisa digunakan sebagai obat darurat untuk mengatasi anafilaksis (anafilaktik) atau reaksi alergi yang tergolong berat dan mematikan.

    BalasHapus
  23. no 1 antihistamin di metabolisme di hati

    BalasHapus
  24. Salah satu antihistamin yaitu cetirizine sy blum mnemukan sumber terkait interaksi dgn makanan namun dlm penggunaannya dihindari dengan minuman berakohol

    BalasHapus
  25. menambahkan jawaban nmr2 yaitu antihistamin aman jika dikonsumsi dengan benar dan sesuai aturan pakai jika berlebihan semua obat memiliki resikonya

    BalasHapus
  26. Saya akan memcoba menjawab permasalahan nomor 1..
    Antihistamin memiliki tempat metabolisme berbeda di dalam tubuh
    Contohnya difenhidramin termetabolisme di hati sedangkan klorfeniramin dimetabolisme dihati selain itu terdapat juga di Hepar yang merupakan tempat metabolisme utama (70-90%), dengan sedikit obat yang diekskresi dalam urin dalam bentuk yang tidak berubah.

    BalasHapus
  27. saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 4.
    Obat generasi ke-1: prometazin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) feniramin, difenhidramin, klemastin (Tavegil), siproheptadin (periactin), azelastin (Allergodil), sinarizin, meklozin, hidroksizin, ketotifen (Zaditen), dan oksatomida (Tinset).
    Obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek antikolinergis

    Obat generasi ke-2: astemizol, terfenadin, dan fexofenadin, akrivastin (Semprex), setirizin, loratidin, levokabastin (Livocab) dan emedastin (Emadin). Zat- zat ini bersifat khasiat antihistamin hidrofil dan sukar mencapai CCS (Cairan Cerebrospinal), maka pada dosis terapeutis tidak bekerja sedative. Keuntungan lainnya adalah plasma t⅟2-nya yang lebih panjang, sehingga dosisnya cukup dengan 1-2 kali sehari. Efek anti-alerginya selain berdasarkan, juga berkat dayanya menghambat sintesis mediator-radang, seperti prostaglandin, leukotrin dan kinin.

    BalasHapus
  28. Mengenai pertanyaan no.2, menurut saya tidak aman jika mengkonsumsi obat secara terus menerus, obat harus dihentikan pemakainnya setelah sembuh, karena jika mengkonsumsi obat secara berlebihan akan banyak memberikan efek samping yg tentu saja tidak diinginkan, namun untuk pemakain yg tepat sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sangat setuju dengan pendapat saudari fiolita, karna apa jika mengkonsumsi obat terus menerus akan berakibat fatal bagi si pengguna jika sakit sudah berangsur membaik, dan jika hal ini tidak di hindarkan maka bisa berakibat ketergantungan terhadap obat tersebut

      Hapus
  29. saya akan mencoba menjawab soal no. 4
    Antagonis-H1 generasi pertama
    1. Turunan eter aminoalkil
    - Difenhidramin HCI
    - Dimenhidrinat
    - Karbinoksamin maleat
    - Korfenoksamin HCl
    - Klemastin fumarat
    - Piprinhidrinat

    2. Turunan etilendiamin
    - Tripelenamin HCI,
    - Antazolin HCl
    - Mebhidrolin nafadisilat

    3. Turunan alkilamin
    - Feniramin maleat
    - Klorfeniramin maleat
    - Dimetinden maleat

    4. Turunan piperazin
    - Homoklorsiklizin
    - Hidroksizin HCl
    - Oksatomid

    5. Turunan fenotiazin
    - Prometazin HCl
    - Metdilazin HCl
    - Mekuitazin
    - Oksomemazin
    - Isotipendil HCl
    - Pizotifen hidrogen fumarat

    6. Turunan lain-lain
    - Siproheptadin HCl
    - Azatadin maleat

    Antagonis-H1 generasi kedua
    1. Terfenadin
    2. Akrivastin
    3. Astemizol
    4. Loratadin
    5. Setirizin

    Antagonis H2
    1. simetidin
    2. ranitidin HCl
    3. Famotidin
    4. roksatidin asetat HCl
    5. nizatidin

    BalasHapus
  30. Nmr 4
    Generasi pertama. Jenis ini memiliki efek menenangkan. Ketika diminum, ada efek samping umum yang bisa Anda rasakan seperti mengantuk, pusing, konstipasi, mulut kering, gangguan dalam berpikir, penglihatan buram dan sulit mengosongkan kandung kemih.

    Jenis-jenis antihistamin generasi pertama antara lain clemastine, alimemazine, chlorphenamine, cyproheptadine, hydroxyzine, ketotifen dan promethazine.

    Generasi kedua. Jenis ini tidak memiliki efek penenang. Ketika diminum, efek mengantuk tidak akan sebesar obat generasi pertama. Meski begitu, Anda tetap harus berhati-hati ketika mengonsumsinya sambil mengemudi dan mengoperasikan alat berat. Karena efek mengantuk masih mungkin bisa terjadi. Antihistamin generasi kedua memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang generasi pertama. Efek sampingnya yaitu mulut kering, sakit kepala, hidung kering, dan merasa mual.

    BalasHapus
  31. Sebagian besar obat di metabolisme di hati

    BalasHapus